KisahDua Tukang Sol (bag 5): Memantaskan Diri Untuk Sukses. By Rahmat Mr. Power January 1, 2017. Ini adalah kelanjutan dari cerita motivasi yang berjudul Kisah Dua Tukang Sol, sudah tertulis 4 bagian. Bagi Anda yang belum membaca kisah sebelumnya, tentu saja akan lebih baik dan nyambung jika membaca kisah pada bagian sebelumnya. Memantaskandiri agar bisa dicintai oleh orang lain itu sangat melelahkan dan membuatmu terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebab apa yang pantas untuk A dan B belum tentu sama. Tetapi, memantaskan diri agar dicintai oleh dirimu sendiri lebih mudah dan efeknya bertahan untuk jangka panjang. Sementaraitu, memantaskan diri, justru jodohnya belum ketemu. Oleh karena jodohnya belum ketemu, dan sekali dapat jodoh pengin yang baik, maka tertancaplah niat ingin memantaskan diri. Kalau saya perhatikan juga, banyak muda-mudi yang kini memutuskan pacarnya dengan alasan memantaskan diri. Memang bagus sebenarnya, sebab dalam Islam, tidak ada Sari Ratna (2022) Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Spiritual Pada Diri Peserta Didik Di SMP Negeri Satu Atap Batu Ampar. Other thesis, Universitas Islam Riau. Text Submitted Version Download (3MB) Abstract. The teachers' effort is one of very important things to achieve a good teaching and Namuntak jarang apa yang mereka idamkan tak sesuai dengan kondisi mereka, sehingga memantaskan diri adalah solusi mereka. Dalam persoalan memperbaiki diri (demi jodoh), tidak sedikit diantara kita berupaya sekuat tenaga, berusaha mati-matian demi mendapatkan seseorang yang baik sebagai pasangan hidupnya. Sampai kadang kita terlalu memaksa Memantaskandiri bisa menjadi salah satu usaha untuk menjemput jodoh. Memantaskan diri sangat bisa dimulai sebelum kita bertemu dengan jodoh kita. Firman Allah dalam Q.S An-Nur ayat 26 yang berarti "Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)". HanyaIngin Menjaga Diri. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc September 7, 2015. 0 3,002 3 minutes read. Coba pelajari kisah berikut, Anda akan tahu bagaimana pentingnya menjaga diri dari bergaul dengan lawan jenis. Suatu malam, kami dengan ibu tersayang sedang makan di resto yang terletak di jalan Magelang. Setelah kami memesan makan malam, nampak Dalammasa penantian ini pun bisa diisi dengan memperbaiki dan memantaskan diri agar mendapatkan jodoh yang terbaik. Karena pada dasarnya jodoh adalah cerminan diri. Mencari jodoh dalam Islam bisa dimulai dengan memperbaiki dan memantaskan diri. Karena wanita yang baik untuk laki - laki yang baik. Wanita yang keji untuk laki - laki yang keji. LRVpoX. Memantaskan diri, adalah kalimat yang sering kita dengar terkait tentang jodoh, tapi kita perlu tahu apa yang terkandung dalam kalimat ini. Ketika kita pantas, maka kita berhak untuk menagih. Seperti buruh yang pantas mendapatkan uang setelah bekerja keras. Tapi bedanya kita dengan buruh, si majikan tidak pernah menciptakan dia. Majikan tidak pernah memberi dia mata, tidak memberi dia tangan. Berbeda dengan Allah, karena sebelum kita mendapatkan tugas dengan Allah, Allah sudah menciptakan kita, sudah memberi banyak kepada kita. Jika Allah tidak membalas kita karena perbuatan kita, itu pun sudah cukup bagi Allah, karena Allah sudah memberi banyak bagi kita. Kita tidak bisa apa-apa tanpa bantuan dan jasa baik dari Allah. Bantuan dan jasa baik dari Allah kita rasakan perdetik, bukan lagi per hari dan per menit, tapi per detik. Setiap detik kita merasakan kebaikan dari Allah, yang mana kebaikan itu kita rasakan detik per detik, dan kebaikan itu begitu vital bagi kita. Begitu vital, karena kebaikan itu berupa hajat hidup kita. Maka kita tidak pantas untuk menagih kepada Allah, karena Allah begitu baik pada kita. Allah telah memberi anugerah yang lebih besar dibandingkan ibadah kita. Ibadah kita adalah lebih kecil, jauh dari apa yang kita terima dari nikmat Allah. Juga kita tidak tahu apakah ibadah diterima atau ditolak? Apakah ibadah kita ini setimpal dengan nikmat Allah yang begitu banyak? Nikmat mata bisa dibayar dengan bersujud selama lima ratus tahun, demikian kata ulama. Ini baru nikmat mata. Padahal nikmat mata tidak bisa berdiri sendiri tanpa nikmat lain. Semua organ tubuh manusia adalah berkaitan, bahkan bisa dibilang berkaitan secara langsung. Tidak ada organ tubuh yang bisa berdiri sendiri. Maka nikmat Allah jauh lebih besar daripada ibadah dan syukur yang kita lakukan kepada Allah. Amal ibadah kita terlalu kecil jika dibandingkan dengan nikmat Allah. Maka ketika Allah tidak memberi balasan pada kita atas amal kita pun sudah cukup untuk alasan Allah. Karena nikmat Allah sudah begitu banyak dan besar kita rasakan. Tetapi Allah begitu Maha Baik, meski sudah memberikan banyak, dan balasan serta syukur manusia begitu sedikit, tapi Allah tetap berjanji memberikan balasan. Jadi kita menerima balasan bukan karena kita berhak, tapi karena Allah telah berjanji. Konsep balasan Allah tidak sama dengan konsep balasan buruh. Di mana konsep balasan buruh adalah sesuai dengan hasil kerja. Dan buruh berhak atas upah kerja karena telah bekerja. Tapi kita mendapatkan pahala karena kemurahan Allah yang sudah bermurah untuk memberikan balasan bagi yang beramal. Ketika kita diberi pemberian oleh Allah, maka kita harus berterima kasih. Artinya ketika kita mendapatkan balasan dari Allah, maka balasan itu bukan karena amal kita. Tapi karena kebaikan Allah yang memberikan balasan. Bukan karena kita berhak dan Allah wajib memberikan. Tidak ada yang bisa mewajibkan sesuatu pada Allah. Tetapi Allah yang bermurah untuk membalas amal kita. Kita sering mendengar istilah memantaskan diri, terutama dalam konteks perjodohan. Tapi sudahkan kita tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita. Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu. Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah. Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah. Di samping itu juga, sangat kental nuansa Law of Attraction di balik kata memantaskan diri. Apa itu Law of Attraction? Itu adalah istilah modern untuk hukum karma dalam keyakinan hindu. Kita mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita ingin mendapatkan, maka kita harus memantaskan diri agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Memantaskan diri, dalam pandangan LoA, adalah dengan memancarkan frekuensi yang cocok ke alam semesta lewat pikiran. Ketika kita sudah memantaskan diri, maka kita akan menarik Allah untuk memberikan yang kita inginkan. Dan seolah-olah Allah akan bergerak sesuai dengan kepantasan kita, bukan sesuai dengan kehendakNya. Artinya dari kita yang bergerak, kemudian Allah yang memberi kita sesuai yang kita kehendaki. Seolah olah Allah menunggu kita untuk bergerak sebelum berkehendak. Seolah Allah tidak memiliki kehendak merdeka, melainkan harus menunggu frekuensi yang tepat dari hambaNya untuk bergerak. Kita harus menyesuaikan diri dengan jodoh kita, nanti baru Allah memberi jodoh yang sesuai. Dan dalam prakteknya, banyak sekali rumah tangga yang tidak berdiri di atas kecocokan seperti itu. Banyak orang yang nampak jodohnya tidak cocok dan tidak sesuai, ya ini karena memang yang berlaku bukan seperti yang teori memantaskan diri, yang meyakini bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri. Bukan seperti teori jodoh adalah dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian Allah. Dan bisa jadi menurut kita cocok, tapi menurut Allah tidak. Kita lebih percaya dan lebih menerima pilihan Allah daripada pilihan kita sendiri. Karena Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak. Banyak sekali yang jika kita lihat tidak cocok, tetapi nyatanya tetap berumah tangga hingga sekarang. Dan banyak sekali orang yang tidak pernah saling kenal sebelumnya, baru mengenal saat sesi perkenalan, tapi berumah tangga dengan indah. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah melihat istrinya sama sekali, baru melihat setelah melakukan akad nikah. Tapi rumah tangga mereka bahagia. Allah tidak menetapkan teori memantaskan diri seperti ini. Yang harus kita lakukan adalah kita beramal shaleh sebanyak mungkin, dan ini adalah tugas kita selama di dunia, apakah kita mau berjodoh atau tidak, tetaplah itu menjadi tugas kita kepada Allah. Kita kita harus mengejar rahmat Allah. Persoalan jodoh itu menjadi urusan Allah. Sebagaimana ada yang tidak diberi harta banyak di dunia ini, ada mereka yang tidak diberi jodoh. Tapi di sorga nanti, semua akan meraih jodoh. Di mana masalah teori memantaskan diri? Masalahnya adalah kita merasa bahwa jodoh adalah dari diri kita sendiri yang kemudian mengontrol Allah. Ketika kita tidak pantas, maka Allah tidak akan memberi. Konsekuensi teori ini adalah tidak ada Allah di dunia ini. Atau jika dipaksakan menganggap adanya Allah, maka Allah tidak memiliki kehendak sendiri, dan Allah dikontrol oleh kehendak hambaNya. Karena LoA pada dasar teori aslinya adalah teori yang meniadakan Allah, yang ada dalam kamus mereka adalah alam semesta, dengan kata semesta, mereka meniadakan Allah. Ketika kita ingin sesuatu, maka tinggal memikirkan, memancarkan gelombang ke semesta, maka semesta akan memproses permintaan kita, kita akan mendapat apa yang kita pikirkan. Semesta akan hanya memproses apa yang diminta dan dipikirkan oleh pikiran kita. Demikian keyakinan Law of Attraction yang menyimpang. Kita akan dapat apa yang kita pikirkan. Nah ini ada benang kesamaan dengan teori memantaskan diri, karena orang akan dapat apa yang sesuai dia usahakan. Ketika dia pantas mendapatkan jodoh dengan kriteria tertentu, maka dia akan mendapat apa yang pantas dia dapatkan. Kita diajak untuk memantaskan diri, agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadikan dirimu pantas mendapat apa yang diinginkan, maka kamu akan dapat apa yang kau inginkan. Inilah persamaan antara teori memantaskan diri dan LoA. Bagaimana jika kata alam semesta diganti dengan kata Allah? Ini tidak akan mengubah apa-apa, karena substansi inti dari LoA tidak akan bisa berubah hanya karena perubahan kata Allah. Alam semesta adalah ciptaan Allah, dan baru bereaksi ketika ada gelombang masuk dari pikiran manusia. Ketika tidak ada gelombang dari pikiran manusia, maka alam tidak bereaksi. Sama dengan teori memantaskan diri, kita akan dapat apa yang pantas kita dapatkan. Ketika kita memantaskan diri sampai pantas sesuai dengan apa yang kita dapatkan, barulah kita dapat apa yang pantas kita dapatkan. Maka bisa dibilang, teori memantaskan diri adalah hanya terjemahan dari LoA. Hanya ketika disampaikan di kalangan muslim, maka ditambahkan dengan diksi-diksi yang sesuai ajaran Islam, seperti ditambahkan kata dengan ibadah pada Allah? Pertanyaannya, apakah ibadah kita ini cukup untuk membayar Allah? Apakah hubungan hamba dengan Allah adalah hubungan antara buruh dan majikan? Bukan. Hamba ini terlalu lemah. Allah yang Maha Penyayang, berkenan memberikan rahmatNya pada kita. Juga dalam teori memantaskan diri adalah lebih parah ketika diterapkan dalam konteks Islam. Karena memantaskan diri mengandung adanya hak dan kewajiban. Seolah adalah dengan ibadah kita maka kita merasa pantas untuk mendapatkan. Seolah Allah wajib memberikan pada kita. Kita memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh, memantaskan diri dengan ibadah, pertanyaannya, apakah ibadah itu membuat kita pantas? Nah akhirnya merasa pantas diri, dan merasa diri ini layak, maka diri ini suah terjangkit kesombongan. Ketika kita mendapat sesuatu, kita bukan layak, tapi Allah yang memberi pahala dan balasan bagi kita. Allah yang mencurahkan rahmatnya. Karena amalan kita tidak akan bisa membuat pantas. Mari kita telaah hadits Nabi berikut ini عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ لَنْ يُنْجِىَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ ». قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا ». Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Amal seseorang tidak akan menyelamatkannya. Seorang sahabat bertanya Engkau juga begitu wahai Rasulullah? Beliau menjawab bukan juga diriku, kecuali Allah mencurahkan rahmatNya kepadaku, tetapi berusahalah sekuat tenaga. HR Muslim Ketika amal sudah tidak bisa membuat kita layak masuk sorga, apalagi sekedar mendapatkan jodoh. Sedangkan sorga lebih tinggi nilainya dari sekedar jodoh. Apalagi ketika orang beramal untuk memantaskan diri, maka ada pergeseran niat yang luar biasa, niat bergeser dari mencari ridho Allah, dan mendapatkan sorga, menjadi beramal untuk memantaskan diri. Dan akan terjerumus pada paham merasa diri ini hebat. Mereka yang beramal dan beribadah hanya untuk mendapatkan jodoh amatlah rugi. Oleh Ustadz Syarif Baraja Source Memantaskan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT terbuka lebar bagi siapa saja yang menghendakinya. Proses memantaskan diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu terdapat hal-hal yang harus diperjuangkan dan butuh waktu dalam mengambil keputusan. Inilah yang menjadi tema dalam Inspiring Talkshow yang juga menjadi salah satu rangkaian acara Wonderful Muharram Fest. Acara yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII bekerjasama dengan Big Bang Center for Medical Islamic Activities ini mengangkat topik “Memantaskan Diri tak Semudah Bermimpi” dengan menghadirkan pembicara Anandito Dwis dan Anisa Rahma. Keduanya merupakan public figure yang digemari oleh masyarakat luas khususnya para remaja. Kehadiran mereka menarik minat para mahasiswa, sehingga Masjid Ulil Albab tempat terselenggaranya Talkshow pada Hari Sabtu 21/9 sangat ramai dipenuhi jamaah. Kedua pasangan itu bertutur tentang proses hijrah yang mereka lalui. Dito, sapaaan akrab suami dari Anisa ini menyampaikan tentu ada masa kenakalan pada setiap orang saat remaja. Memilih teman bergaul sangatlah penting, sebab lingkungan dapat menjadi faktor pembentuk karakter seseorang. Di masa kuliahnya, Dito mencoba untuk bergaul dengan teman-teman yang dapat mendukung proses pemantasan dirinya. “Seseorang dapat dilihat agamanya dengan melihat agama teman-temanya,” ucap Dito. Berbeda dengan kisah hijrah yang dialami oleh Anisa. Panggilan untuk berhijrah ia alami ketika masih dalam dunia hiburan. Keputusan untuk berhijrah menggunakan hijab ia tempuh dengan berfikir matang. Ketika itu, terbersit dalam dirinya rasa takut kehilangan pekerjaan dan popularitasnya akan menurun setelah berhijrah. Namun, Anisa membulatkan tekat untuk tetap berhijrah. Anisa menuturkan bahwa hal terberat dalam menjalankan hijrah adalah istiqomah. Maka dari itu mengikuti kegiatan kajian merupakan salah satu langkah untuk menjaga keistiqomahannya, karena dengan begitu lingkungan akan mendukung proses berhijrah. Anisa juga menambahkan, ketika niat diluruskan hanya karena Allah maka rezeki akan dimudahkan oleh- Nya. Kisah keduanya menjadi inspirasi bagi jamaah yang didominasi oleh para mahasiswa. Hijrah yang dijalani keduanya menjadi jalan atas pertemuan mereka. Keduanya juga bercerita tentang kisah cinta mereka hingga menjadi pasangan suami istri. Memantaskan diri ke hal yang baik akan menarik hal-hal baik lainnya termasuk urusan jodoh, begitulah pesan yang tersirat dalam kisah yang mereka tuturkan. NR/ESP WAHAI Muslimah, pernahkah kamu mendengar istilah memantaskan diri agar jodoh mendekat? memantaskan diri agar mendapat jodoh terbaik? Sebetulnya tidak ada yang salah untuk memantaskan diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Allah SWT berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia surga.” QS An Nur 26 BACA JUGA Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya Luruskan niat memantaskan dirimu agar proses nya tak sia-sia di hadapan Allah SWT. Coba kamu perhatikan ikhtiar yang kamu lakukan dalam proses memantaskan diri apakah sesuatu yang ingin kamu capai demi penilaian manusia. Jika demikian maka bersiaplah untuk kecewa. Jika kamu memantaskan diri dengan tujuan mendapat penilaian atau pujian dari manusia, berhati-hatilah kamu menjadi orang yang “tidak pantas” untuk seseorang dengan apa adanya dirimu. Hal itu dikarenakan kamu menjadi seseorang yang disibukkan untuk mencapai standar orang lain. Simpelnya, kamu memantaskan diri untuk orang lain, dengan menuntut lebih atas dirimu. Melakukan banyak perubahan hanya demi mendapatkan penilaian orang lain. Mengabaikan potensi yang sesungguhnya ada pada dirimu demi mendapatkan cinta dari manusia, menjadi sosok manusia yang bukan dirimu. Sungguh akan melelahkan ketika kamu beruaha menggapai penghargaan dari orang lain, sedangkan kamu belum menghargai dan mencintai dirimu sendiri. Ketahuilah wahai saudariku, ketika kamu mencintai dirimu sendiri, kamupun akan mudah dicintai orang lain. Fokus saja terhadap kualitas diri yang akan kamu persembahkan untuk Allah. Jodoh itu sesuai cerminan diri, takperlu repot berpura-pura semuanya tampak sempurna. Terlebih jika berharapa pujian dari orang lain, berharap realita sesuai dengan keinginanmu. Hingga niatmu memantaskan diri hanya sebatas untuk manusia. Percayalah kebaikan itu hadir dari hati, ketulusan akan menyebar pada sekelilingmu. Fokuslah pada apa yang layak kamu berikan pada Allah SWT. Meningkatkan kualitas ibadah, mengembangkan potensi diri, mendewasakan mental, memperkaya wawasan, dan memberikan kontribusi terbaik dalam berkarya, adalah banyak hal dari proses memantaskan diri yang wajib kamu bangun. BACA JUGABolehkah Muslimah pakai Make Up? Niatkan dan persembahkan segalanya karena Allah semata, sebagai penunaian tugas sebagai hambaNya yang berkewajiban menanamkan manfaat terhadap diri sendiri maupun terhadap sekitarmu. Pantaskan diri untuk Allah, bukan untuk jodoh. Cukuplah hadirkan keyakinan padaNya, bahwa jodoh yang kelak Allah hadirkan, akan sebanding dengan kualitas dirimu. Insyaa Allah. []